Ada Monster Di Apartement ku

(Kamis, 12 July 2007 @ kantor redaksi e magazine)

Beberapa hari belakangan aku selalu pulang malam… Lembur sampai jam 8 bahkan jam 9 malam. Posisi baruku sebagai seorang reporter inti setelah dipromosikan dari posisi semula yaitu editor, ternyata tidak selalu menyenangkan seperti apa yang terpikir di dalam benakku sebelumnya. Sebagai reporter, aku selalu dihantui oleh deadline.. deadline.. dan deadline! Hmmmhhh…. tapi paling tidak aku harus menerima semua ini. Karena posisi ini adalah impianku sejak pertama masuk di redaksi majalah fashion terkemuka di negeri ini.

Selain karena faktor cita-cita, dengan menjabat 2 posisi di kantor paling tidak imbalan yang dijanjikan di posisi baru ini pun paling tidak bisa membuat ku sedikit lega menghadapi tuntutan kewajiban bulanan di ibukota yang serba mahal ini. katanya sih kota metropolitan, tapi semua hal dihargai dengan metropolitan juga. mulai dari cicilan apartement, cicilan mobil yang tinggal 1 tahun lagi, bensin, biaya makan, laundry, kebutuhan sehari2, dllnya, yang mau tidak mau harus ku tanggung sendiri. paling sesekali ada bantuan dari mas-ku yang tinggal di Perth-Aussie. tapi… kan aku tidak bisa selalu mengharapkan bantuan darinya? disana dia juga harus menghidupi keluarganya. Ya Tuhan…. paling tidak, dengan 2 posisi ini aku bisa lebih bernapas lega untuk hidup di kota yang penuh sesak ini.

hari ini untuk ke sekian kalinya aku masih harus mengetik berita untuk rubrik “Artist on the Act” sebagai hasil dari interview ku kemaren dengan seorang Diva-Titi Dj. kekagumanku terhadapnya semakin terjawab. bukan cuma cantik dan bersuara diva, attitude nya juga diva. dia memiliki kharisma seorang diva, tapi jauh dari sifat sombong. buktinya setelah selesai interview, ketika dia tau aku sangat mengaguminya, dia tidak segan-segan mengajakku untuk lunch di sebuah resto high class langganannya di daerah kemang. betapa bahagianya aku di hari itu. back to meja kerja…. sedikit lagi artikel nya bakal selesai. karena tinggal upload picture dan edit sana-sini. akhirnya selesai juga! Ketika siap-siap pulang kantor, tiba-tiba telepon selulerku berbunyi. di layarnya tertera +6281574568XXX unknown number. siapa yah?

Aku : “hallo”

+6281574568XXX : “hallo…! rika?”

Aku : “hhhmmmhhh… maaf ini siapa ya?”

+6281574568XXX : “rika, iki budhe Sundari dari Jogja, temen kantor bapakmu di Surabaya dulu! Istri ne om bowo. Inget khan?”

(Waduh…. Medhog banget nih orang!
Aku mengerti bahasa jawa, karena memang leluhurku dari sana. tapi berhubung sejak SMP aku udah mutusin hijrah ke Jakarta, tinggal bareng mas panji (waktu dulu masih kerja di Jakarta). Jadi sekarang lidahku sudah kaku kalau berbicara dengan bahasa bapakku itu)

Aku : “oh… ya. Inget..inget. Pa kabar budhe?”

+6281574568XXX : “apik-apik. Koe pie kabare nduk?”

Aku : “baik budhe”

+6281574568XXX : “Sa iki yo nduk… ponaanku sesok ke Jakarta. Keterima kuliah di universitas XXX. Trus… sementara ke tempatmu dulu yo nduk.belum ngerti nyari kontrakan. Maklum wong ndesoo…”

Aku : “oh gitu… silahkan aja budhe. Kapan ke jakartanya budhe?”

+6281574568XXX : “lusa nduk. Naik kereta Argodwipangga berangkat dari jogja jam8 pagi. Nyampe stasiun gambir jam3 sore. Iso jemput adikmu nduk? adikmu ora ngerti jakarta.”

Aku : “oh ya budhe… bisa.. bisa. Lusa ya budhe? Ntar ya aku catet dulu nama keretanya. Oh ya budhe… nama adeknya siapa ya?”

+6281574568XXX : “iya lusa. Namanya Ardi Bagus Suwarno. O ya nduk… sesok adikmu ke Jakarta ne bareng ibuknya juga, bulek dharmi, adik budhe yang nomor 3.”

Aku : “oh ya budhe… budhe ma pakdhe sehat?”

+6281574568XXX : “sehat.. sehat? Gimana kerjaan mu nduk? kapan kawin?”

Aku : “kawin? Ha ha ha masih lama budhe…umurku juga masih 24”

+6281574568XXX : “ojo gitu nduk… kuwalat koe nanti. Umur segitu harusnya udah nikah. Budhe aja dilamar pakdhe mu umur 21!”

Aku : “oh… ya budhe! He he he…”

+6281574568XXX : “yo wis nduk… nuwun sewu yo. Titip adek mu.”

Aku : “ya budhe”

+6281574568XXX : “yo wis… Assalamu’alaikum…”

Aku : “waalaikum salam. Titip salam buat pakdhe bowo ya budhe!”

+6281574568XXX : “o… yo…yo..! Klik… tut…tut…tut….tut…..”

“hhhmmmmhaaahhhh… firasatku koq tiba-tiba ngga enak ya? kalau ada orang jogja ke Jakarta biasanya pasti suka nanya macem-macem, ga enak juga klo nggak aku ajak jalan-jalan. Bisa ga yah? Mana lagi minggu-minggu deadline berita? Aarrrgghhhh…. liat nanti aja lah”

Jam dinding di ruangan kantor sudah menunjukkan pukul 21:10, sudah larut. Sudah saatnya aku pulang. Lagi pula hanya tinggal aku yang masih berada di ruangan lantai 12 ini. Aku turun ke parkiran basement dan mobilku pun meluncur menuju apartement.

******

(Sabtu, 14 July 2007 @ gambir)

Berulang kali kulirik jam tangan dan jam yang ada di dashboard mobilku. Jam telah menunjukkan pukul 14:50.

“waduh… 5 menit lagi keretanya nyampe. Mana macet lagi! Khan ga enak klo mereka harus nunggu”

Memang aku sudah dekat dengan stasiun gambir. Hanya saja sekarang mobilku sedang terjebak macet. Ada demonstrasi di bunderan HI. Sepuluh menit kemudian akhirnya aku lolos juga dari kemacetan itu. Kutambah kecepatan mobil untuk segera masuk ke area stasiun. Begitu sampai aku langsung parkir dan cepat-cepat masuk ke dalam stasiun. Aku langsung naik ke lantai 3, ke tempat naik-turunnya penumpang kereta api. Kenapa tahu? Karena dulu waktu SMA, aku pernah beberapa kali naik kereta ketika pulang ke jogja. Tapi sejak banyaknya kecelakaan kereta, bapak dan ibu juga mas Panji menyarankan aku untuk menggunakan Pesawat saja. Toh tidak jauh beda, malah lebih cepat dan tidak bikin capek.

Sesampai di lantai 3 kuliat kerumunan orang yang cukup ramai disini. Mungkin karena factor hari sabtu, jadi banyak yang ingin bepergian. Tampak diantara mereka membawa tas-tas besar di bawah tempat duduknya. Tapi Cuma ada satu kereta disini. Kulirik jam tangan, pukul 15.05. apa itu keretanya bulek darmi yah? Kutanya pada salah sorang bapak-bapak berseragam biru muda dan celana dongker, yang bisa di tebak adalah petugas stasiun ini.

Aku : “maaf pak, mau nanya, kereta Argodwipangga dari jogja berangkat jam8 pagi udah nyampe pak?”

Petugas stasiun : “oh belon neng… paling entar lagi.”

Aku : “ow gitu, makasi ya pak”

Petugas itu pun kembali sibuk dengan urusannya kembali. Kulihat sekeliling, mencari-cari bangku kosong. Maklum walaupun sabtu hari libur, tadi jam 11, aku masih harus ngerjar nara sumber untuk berita majalah. Lima menit menunggu, akhirnya kereta Argodwipangga datang juga. Kucoba telpon nomor telepon yang sudah dikasih budhe sundari kemaren. Untuk memastikan kalau aku sudah ada disini. Kujelaskan bahwa aku menggunakan rok selutut warna coklat muda dan kemeja putih garis-garis. Dan bulek darmi juga menjelaskan pakaian yang mereka gunakan. Tidak begitu lama, akhirnya kami pun bertemu. Aku berkenalan dengan mereka, yang memang aslinya aku tidak mengenal mereka. Ardi anaknya cukup ganteng untuk anak seumuran dia.sementara bulek, tidak ada yang terlalu special selain medhog nya yang amit-amit minta ampun. Kami pun beranjak ke mobil dan beranjak menuju apartementku.

Sesampai apartement bulek darmi nggak berhenti bercerita terus-terusan dengan dialeknya yang medhog itu. Dari turun kereta tadi ngomong terus, ngga capek apa ya? Sedangkan ardi baru ngomong kalau sudah ku tanya.

Aku : “Ok bulek, ardi, ini apartement ku. Maaf ya kecil! Maklum Jakarta, susah nyari tempat tinggal. Selamat datang di Jakarta. Kalo ada apa-apa tinggal bilang ajah, jangan sungkan-sungkan yah! sekarang bulek dengan ardi tidur di kamar yang ini. silahkan istirahat dulu. Udah capek khan di kereta seharian? Klo mau mandi, itu toilet di depan deket pintu masuk. Kalo laper ato haus, ke dapur ajah. Rika ke kamar dulu.”

Bulek dharmi : “ini kamar siapa rika?”

Aku : “oh… ini kamar tamu. Kamar rika yang deket pintu masuk tadi. Sementara bulek sama ardi disini dulu ajah, sampai ardi dapet kontrakan atau kost-kost an.”

Bulek dharmi : “oh gitu. Yo wis lah klo gt. Nuwun sanget yo rika, udah bantu-bantu.”

Aku : “ah… bulek. Biasa aja. Ya udah istirahat yah… besok kita muter2 nyari perlengkapan buat ardi.”

********

(Sabtu, 15 July 2007)

Sudah seminggu bulek dharmi dan Ardi di apartement ku. ketika kami mencari kost-kostan yang cocok untuk ardi, setelah keliling di seputar kampusnya, bulek dharmi tidak suka dengan setiap kost-kostan yang kami kunjungi. Ada yang kemahalan lah, terlalu kecil lah, jorok lah, dan bla.. bla.. bla… sehingga pada hari ketiganya mereka di Jakarta, bulek dharmi mengusulkan untuk ardi tinggal di apartementku, dengan perjanjian bulanan apartement ini dibagi dua. Hhhmmmhhhh…. Ya sudahlah. Nggak enak juga dengan budhe sundari. Lagian apa salahnya juga aku tinggal disini berdua, toh ardi bisa juga jadi adek sekalian temen cowok yang bisa menjaga aku kalau mau kemana-mana. Akhirnya aku terima tawaran itu dengan semua perjanjian yang telah kami sepakati.

Tapi apa yang terjadi? Di hari pertama, kedua, ketiga, memang situasi masih aman terkendali. Namun di hari keempat mulai muncul beberapa masalah. Bulek dharmi terus-terusan minta aku untuk mengantarnya belanja dan keliling Jakarta. Padahal khan sudah tiga hari berturut-turut jalan terus seharian. Sampai-sampai aku harus ijin tidak masuk kantor untuk mereka. Sekarang… staminaku down, aku sakit….! Badanku panas… sepertinya darah rendahku kambuh. Gawat…..! di kantor berita-berita sudah menumpuk untuk di edit. Arrggghhh… lemas…..

Tidak itu saja sekarang bulek dharmi seolah-olah sudah menguasai apartementku. Bulek dharmi mengganti dekorasi ruang tamu apartementku. Furniture kesayanganku disingkirkan bulek dan diganti dengan furniture-furniture kesukaannya. Tidak itu saja… guci antik kesayanganku, yang susah payah kubeli waktu ke Beijing dulu ‘pecah’! hiks..hiks.. hiks.. apa dia tidak tahu betapa susahnya membawa guci antik itu sampai bisa masuk ke Indonesia? Apa dia tidak tahu berapa harga guci antik itu sampai aku harus menghabiskan sebagian besar tabunganku? Tapi kini…. Semua itu hanya tinggal puing-puing pecahan saja. Dekorasi kamar tamu ku, yang sekarang ditempati ardi pun digantinya. Kerja keras dan uang yang telah ku habiskan untuk menyewa desain interior untuk menata apartementku kini hilang begitu saja. Apartementku jadi tidak ada seninya sama sekali. Belum lagi, mulai ikut campurnya bulek dharmi dalam kehidupan pribadi dan karir ku. Seolah-olah semua jalan pikirannya bulek dharmi harus aku ikuti. Arrrrgggghhhhh…….

Ada Monster di Apartement ku!

Aku heran, kenapa udah selama ini dia belum juga pulang ke jogja. Toh sementara ini ardi juga berada di bawah pengawasan aku. Segitunya kah dia memanjakan anaknya. Anak laki-laki koq ngga diajarkan mandiri! Bagi ku tidak ada masalah untuk tinggal satu atap dengan ardi. Permasalahannya sekarang adalah pada orang tuanya Ardi yang sudah mulai mengusik area pribadiku dan membuat aku semakin lama semakin merasa tidak nyaman. Aku bingung harus bagaimana? Performansi kerjaku di kantor mulai menurun gara-gara pikiranku sumpek.

********

(Jum’at, 21 July 2008 )

Presentasi ku dengan klien hari ini berantakan. Bagaimana tidak, ketika presentasi telepon selulerku bunyi terus. Bulek dharmi nelpon terus, nelponnya padahal tidak terlalu penting. Cuma bertanya, “nduk…. Garem koe tarok dimana?”, “nduk… ntar pulang jam piro? Jangan kelamaan ya! Anterin bulek ke supermarket!”,”bla… bla.. bla…” kumatikan telepon selulerku, entah dari mana dia dapat nomor kantor ku. Aku ditegur atasanku gara-gara gagal dalam menarik klien untuk investasi di majalah kami. “Ahhhh…. Sudahlah. Mumet kepalaku”. Jam 1 siang kuputuskan untuk pulang ke apartement, dari pada telat, aku disindir terus oleh monster itu. Ya ampun…. Maceetttt…. Aku lupa hari ini jumat, jam segini para pria baru keluar sholat jumat dan juga memang jam makan siang. Ya sudah… mau bagaimana lagi kalu sudah macet seperti ini.

Sesampai apartement, aku langsung disambut dengan asap dan aroma masakan bulek dharmi. Aku langsung batuk-batuk.

Aku    : “Bulek lagi ngapain? Koq banyak asep gini.”

Bulek dharmi    : “iki lho, lagi masak rendang.”

Aku    : “waduh bulek…. Koq ga bilang-bilang dulu klo mau masak rendang. Ga enak tau…. baunya ganggu tetangga satu lantai apartement ini. Klo mau rendang, bilang rika aja! Biar aku beliin di rumah makan padang.”

Bulek dharmi    : “o… gitu yo! Aku disini udah bayar, trus apa-apa dilarang. Mau masak dilarang, mau ngapain aja dilarang, sombong ne koe nduk! Kuwalaaaat koe begitu sama orang tua! Mentang-mentang …bla..bla..bla…”

Bulek dharmi mencak-mencak di dapur sambil menunjuk-nunjuk muka ku. Kutinggalkan saja dia mencak-mencak disana. Ku ambil tas ku, dan keluar lagi dari apartement, kupacu mobilku ke café didaerah kemang. Disana aku ngopi sendirian, mencoba menyendiri sembari melepaskan beban di kepala ini. Merenung lagi, ada apa denganku. Sejak datangnya bulek dharmi ke kehidupanku, semuanya jadi kacau. Padahal siapa dia? Kerabat bukan, saudara juga bukan. Bahkan bapak saja ngga kenal dengan dia. Tapi dia sudah terlalu jauh mengganggu jalan hidupku. Malam ini aku dugem ke salah satu club favorit di Jakarta. Bersama teman-teman ku kucoba lupakan semua masalah. Jam 2 pagi aku pulang ke apartement.

Sesampai apartement, ternyata bulek dharmi belum tidur. Aku masuk ke apartement, tiba-tiba bulek dharmi langsung marah-marah padaku. Dia bilang aku tega nelantarin ardi di kampus. Oh… god! Aku lupa kalau aku janji jemput ardi pulang dari kampus sore ini. Kepala ku pusing lagi mendengar ocehan bulek dharmi. Aku ke dapur untuk minum segelas air putih. Ternyata bulek dharmi juga ngikutin aku ke dapur dan tetap ngomel-ngomel sembari mengacungkan telunjuknya ke muka ku. Aku hanya bisa diam saja. Percuma saja kalau diladeni. Tapi omelannya tiba-tiba semakin menyinggung ke masalah pribadi ku.

Bulek dharmi    : “wanita macam apa kamu! Jam segini baru pulang. Keluyuran ngga inget waktu. Mau jadi apa koe nduk! ini yang diajari bapakmu opo yo? Dasar murahhaaannn !!!”

Kali ini kesabaranku sudah melebihi ambang batasnya. kenapa bapakku dibawa-bawa dalam urusan ini. Wanita tua ini benar-benar monster di apartement ku. Darahku panas mendidih. Tanpa pikir panjang kuambil pisau yang ada di meja dapur, langsung kuhujamkan ke perut monster itu berkali-kali. Sesaat langsung menyembur darah segar ke muka dan pakaian kerja ku. Aku tertawa bahagia. Tertawa melihat pahlawan berhasil membunuh monster di hadapannya. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha

*** tamat ***

Iklan

Ditulis dalam cerpen

Permalink 4 Komentar

4 responses to “Ada Monster Di Apartement ku

  1. zita

    hei.kamu ada bakat menulis terpendam rupanya 🙂

  2. nyes

    bakat psikopat jg kykny…..waduuuuh

  3. @ zita ‘n nyes

    heu heu heu heu….
    kesimpulan nya berarti gue dibilang bakat menulis terpendam dan bakat psikopat
    ckckckckckck

    orang gila !

  4. diandian

    gag bosenin!!! n seneng aja baca cerpen yang ada tanggalnya…
    apa ya namanya, yang kayak gitu itu?????

    tapi bahasa jawanya ada yang gag pas tu tulisannya!!!
    tapi kalo yang baca orang jawa asli bakal ngaerti si apa maksudnya cuma bhs jawa tu kadang tulisannya gag sama ma bacaannya…

    khe,,,khe,,,

    tapi overall menarik kok,,,
    gaya berceritanya kayak syapa ya??????
    hu,,,hu,,, piiissss!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

what date is today?

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

My Twitter

Blog ini telah dikunjungi

  • 25,459 pengunjung

kamera... chiiizzz!!!

%d blogger menyukai ini: